Selasa, 18 Februari 2014

Jasamu


            saat ku pandang langit biru
            saat itu juga aku teringat jasamu
            jasa yang tak akan pernah hilang untuk dikenang
            yang tak akan pernah habis untuk dirasakan

            kau…
            dengan tak ada rasa bosan mengajariku
            mengajari akan pentingnya ilmu
            pentingnya akan pendidikan yang tinggi
            aku tak mampu menahan derai air mata ini
            saat detik-detik terakhirku ini untuk meninggalkanmu
            meninggalkan hari-hari bersama materi barumu
            bersama ocehan yang kerap kali kau lontarkan

            aku tak akan mampu melupakanmu
            selain orangtuaku yang mengajariku
            kau juga turut mengajariku di tempat ini
            tempat yang paling bersejarah bagiku
            tempat masa putih abu-abuku ini

            tak kan mampu aku untuk meninggalkan guru-guru tercintaku
            berpisah bersama teman-temanku


Kangen Kamu



Suatu hari nanti saat waktu mempertemukan kita berdua
Aku akan mencium ujung kaki hingga ujung rambutmu itu
Dan kukatakan pada setiap jengkal kulitmu
Bahwa aku teramat merindukan dirimu
Kan kubisikkan ditelingamu berulang-ulang hingga engkau merasa bosan
Kan kunyanyikan syairku hingga engkau tertidur lelap
Dan kutuliskan dihatimu betapa aku menyayangimu
Setelah letih menidurkanku dan membawaku kealam mimpi
Hari ini,kurasakan pagi bernyanyi untukku
Masih teringat jelas ditelingaku lembut suaramu semerdu lagu bidadari
Saat kau menyapa mimpiku malam tadi
Dan masih Nampak jelas dimataku
Senyum manismu yang membuatku merasakan indahnya kebahagiaan
Masih teringat jelas jemariku membelai rambutmu yang terurai
Kau tarik tanganku dank au genggam erat
Semua tak akan hilang dalam ingatanku
Namun canda tawa bersamamu kini hanya penantian
Tutur sapa denganmu kini hanya impian semata
Jauh tatapan untuk bertemu,jauh kita untuk menyapa
Walau jarak membentang memisahkan kita
Namun hati ini selalu menanti kehadiranmu

Aku kangen kamu………

Perpisahan ini



Waktu lalu…
Waktu yang tak kan menyatu kemasa kini
Waktu yang tak kan kembali kemasa lalu
Hingga sang mentari bersinar meneranginya

Waktu, ada siang ada malam
Kala bumi berotasi dan berevolusi
Namun waktu yang akan menyatukan kita
Dimasa kita bertemu nanti

Bertemu dalam satu keadaan yang berbeda
Bertemu dalam situasi yang sama

Namun,,,,,
Di perpisahan ini, kau benar-benar  aneh
Aneh dengan kepalsuan suara
Aneh dengan ketidakmungkinan yang terjadi

Tuhan …
Jikalau Kau Maha Pemurah
Pertemukannlah kami dalam satu cinta
Namun jangan pertemukan kami dalam kebencian

Tuhan…

Perpisahan ini, tak akan berujung  dengan kesedihan

Negeriku yang malang



Saat air mengalir begitu derasnya menyelimuti semua yang ada didalamnya
Saat air mengalir begitu derasnya mengisi celah-celah kosong yang ada di sekitarnya
Begitu cepat dan hebat, tanpa henti ia terus menutupi celah-celah kosong itu
Tiupan angin pun turut mengikuti  arus kemana air itu hendak dilimpahkan

Dia datang tiba-tiba, seolah-olah bencana besar datang hendak menelan alam ini
Bahkan awan pun tak memberi  tanda kepada pohon-pohon disekitarnya
Hanya terlihat gemuruh angin dan burung-burung  yang berterbangan tak tentu arah

Tak sampai hitungan menit, ia benar-benar datang
Datang menghampiri apa yang bisa di raihnya melalui gelombang tinggi itu
Gelombang mengerikan itu menghempas di atas permukaan laut dengan sangat dasyat
Ribuan nyawa hilang terbawa secara mendadak oleh sapuannya

Tertunduk ribuan air mata berlinang dan takut menyaksikan kejadian itu
Mereka benar-benar berduka dengan kejadian yang mereka lihat saat itu
Mencari-cari kemana anggota keluarga mereka, namun hasilnya nihil

Negeriku yang malang ini benar-benar berduka
Dunia pun ikut berduka menyaksikan kabarnya
Banyak menyangka, ini semua ulah manusia
Namun, apa daya tumpahan air yang begitu besar itu tak mampu di kembalikan ketempatnya

Maafkan Aku Ibu



Ibu, begitu  banyak pengorbananmu terhadapku
Begitu banyak, jerih payahmu untuk melihatku tersenyum bahagia
Begitu besar kasih sayang yang kau berikan terhadapku
Hingga sampai saat ini, kau masih tetap berada disampingku

Aku yang selalu kau anggap sebagai putri kecilmu ini
Putri yang senantiasa ada dalam setiap do’a-do’amu
Ada dalam setiap mimpi-mimpi indahmu
Bahkan ada disetiap kesibukanmu, aku akan selalu ada bagimu

Betapa berat dan besar beban yang kau pikul hanya untuk putri kecilmu yang tak tahu diri ini
Putri kecil yang hanya tahu meminta, dan meminta

Ibu…
Aku yang teringat atas kesalahan yang kulakukan di masa lalu
Atas omongan yang membuat hatimu terluka
Kau merasakan sakit itu, tapi bukan ragamu melainkan hatimu

 Putri kecil yang selalu kau banggakan dulu
Kini telah dewasa, dia tahu akan dosa-dosa dan akibatnya
Tahu bagaimana rasanya menjadi seorang wanita
Maafkan aku ibu, aku berjanji akan selalu membuatmu tersenyum
Hingga nyawaku jadi taruhannya nanti
Senyummu adalah kebahagiannku
Senyummu adalah penopang raga dan pengganti hidupku
Senyummu juga sebagai penyemangatku

Ibu…
Jika kau sedih, aku akan lebih sedih darimu
Jika kau menangis, aku juga akan turut menemanimu meneteskan air mata itu
Meneteskan air mata yang tak semestinya diteteskan

Akan kuraih kau dalam dekapanku
Hingga kau terlelap tidur dalam pangkuanku
sambil kubisikkan dengan pelan sebuah kata maaf yang dulu sulit terucap dari bibir ini
sebuah kata yang tak akan terlupakan
maafkan aku Ibu

Kenanglah Sahabat


genggaman tangan  itu, terasa tak ingin terlepas
genggaman tangan  itu, terasa sangat kuat menggenggam tangan-tangan mungil  ini
bahkan jari-jemari ini tak mampu tuk memberontak meminta lepas dari genggamannya
genggaman tangan itu pun telah mengajariku bagaimana aku bisa menghargai sahabat-sahabatku

sahabat…
dikala kita terpisah oleh jarak dan waktu nantinya
yakinlah kita akan tetap bersatu kembali dalam waktu yang berbeda
walau hati ini tak bisa memungkiri, untuk tak bisa jauh dari kalian semua

perjalanan panjang dimasa lalu hingga kini t’lah kita lalui bersama
berbagai rintangan, haluan terasa ringan kuhadapi bersama kalian
bahkan aku juga tak mampu tuk menahan tetesan air mata ini
saat aku mengingat masa-masa indah itu bersama kalian

sahabat…
kenanglah aku, dia, hingga mereka yang tetap ingin bersama-sama menghargaimu
waktu ini begitu cepat berlalu untuk menikmati masa kebersamaan kita
begitu cepat berlalu untuk kita bisa mengulang masa-masa yang telah lewat

sahabat….
Air mata ini, tak akan bisa menetes dengan sendirinya
Tak akan bisa berhenti mengalir hanya  dengan hitungan waktu
Biarpun jam berputar mengikuti porosnya, aku akan selalu mengingatmu
Kenanglah aku, walau nanti waktu yang memisahkan kita

Kehadiranmu


Dulu Kau Ditunggu…
Dulu Kau Dinanti…
Tepat Dihari Itu Dan Di Pagi Itu Kau Hadir Kedunia Ini
Dengan Jeritan Tangis Yang Berdenging Di Telinga
Dengan Berat Yang Kebanyakan Diatas Rata-Rata Angka Kelahiran Umumnya

Bulan Demi Bulan Kau Terdeteksi Dengan Segala Perkembanganmu
Dan Kau Kini Hadir Dalam Rupa Yang Cantik Dan Manis
Menjadi Seorang Bocah Mungil Dengan Kelincahanmu
Bocah Mungil Dengan Kepintaran Dan Kepandaianmu

Kini Kau Disanjung, Disayang, Dimanja
Ayah, Ibumu Begitu Menyayangimu
Tak Lepas Dari Mereka Sebagai Ayah Dan Ibu Dari Kedua Orangtuamu
Yang Sangat Menyanyangimu Pula

Fasilitasmu Lengkap..
Apa Yang Tak Kau Minta, Mereka Berikan
Apa Yang Tak Kau Inginkan, Mereka Tetap Berikan
Walau Sebenarnya Kau Mengatakan Tidak

Mengatakan Tidak Untuk Menolak Atau Menerima
Itu Masih Dalam Rahasia Besar Yang Ia Simpan
Rahasia Yang Dapat Ia Ceritakan Ketika Ia Sudah Mampu Memanggil Ayah Dan Ibunya

Diusiamu Yang Tergolong Masih Kecil Ini
Kau Tumbuh Dan Berkembang Mengikuti Jalur Usiamu
Dengan Memasang Wajah Yang Selalu Tersenyum Dikeadaan Yang Dibilang Tak Bahagia
Saat Ini Kau Sebagai Putri Kecil Yang Dititipkan Ilahi Kepada Ayah Dan Ibumu
Ter-Ikut Do’a Yang Selalu Menyertaimu Dan Menjagamu Agar Kau Selalu Tersenyum
Membawa Kebahagian Dikeluarga Kecil Dan Besar Sekarang, Esok Hingga Selamanya