Jumat, 13 Juni 2014

Kawan


Kawan
Saat masa akhir ini
Aku tak ingin mengalir begitu saja
Aku ingin tetap terkenang
Diantara sahabat-sahabatku

Kawan
Apakah ini hari terakhir??
Jika iya, apa yang harus kulakukan
Aku bingung
Ragu
Aku tak tau

Kawan
Kebersamaan ini lah yang selalu kukenang
Bahagia
Sedih
Senang
Selalu bersama –sama kalian

Beri aku arah
Arah menuju pintu kebersamaan nantinya
Bersama-sama saat kita sama-sama sukses
Menjadi orang terhormat yang terpandang
Aku yakin
Aku akan tetap terkenang
Walau nantinya akan ada orang lain yang menggantikanku
Menggantikan posisiku disebelahmu
Tapi, aku percaya
Aku akan tetap terkenang
Walau bukan dibibir atau fikiran
Namun di hati kalian

Keberhasilan bersama ayah


Aku ingin ini menjadi kesuksesanku
Aku ingin ini menjadi keberhasilanku

Bukan apa-apa
Ku ingin melihatnya bahagia
Aku ingin melihatnya bangga
Bukan hanya kepadaku
Kepada kakakdan juga adikku

Walau ia tak disini bersama kami
Aku tau
Ia disana memperhatikan kami

Hanya utukmu
Seorang ayah yang tak pernah lelah

Hanya engkau ayah
Yang mampu membuatku menangis tanpa kesedihan
Yang mampu membuatku tertawa tanpa kebahagiaan

Kesuksesanmu bersama kami
Kebersamaanmu bersama kami
Tak mampu menghapuskan masa-masa itu
Dari hidup ini

Ayah….
Lewat keberhasilan awal ini
Lewat kebahagiaan yang tak sempurna ini
Kami akan persembahkan sebuah keberhasilan
Hanya untukmu

Rapuh


Goyah
Runtuh
Aku sendiri
Sendiri tanpa satu orang datang
Aku jatuh
Namun kembali bangkit
Aku terluka
Berusaha tak ku tampakkan

Apa ini??
Kegagalan
Kebisuan
Atau  kerapuhan jiwaku

Ya, sepertinya itu
Rapuh..
Kerapuhan ini yang membuatku diam
Tanpa satu kata terucap
Hanya air mata yang mengalir
Tanpa satu orang pun yang menghapusnya
Aku bosan
Melihat dan merasakan hidup ini
Aku lelah
Aku menyerah

Curhat


Lewat kesederhanaan ini
Aku ingin tunjukkan pada mereka
Siapa aku?
Siapa dia?
Dan siapa kami?

Yang dulu dihina
Di cemooh
Di gunjing
Itulah motivasi keras bagi kami

Bukan tertunduk lemah
Namun bersemangat menjalani hidup
Aku akan tunjukkan kepada mereka

Bagaimana rasanya dihina
Di caci dan di maki
Apakah mereka mengetahui itu
Tidak!

Kejam sekali mereka
Seharusnya mereka malu
Menindas yang tak mengerti apa-apa
Dan bahkan bukan apa-apa
Di sini

Ayah

Kapan kau kembali?
Kapan kau kesini?
Kapan?
Kapan ayah melihatku?
Kapan ayah tertawa bersamaku?
Kapan ayah datang secara tiba-tiba?

Ayah…
Kenapa engkau tak melihatku?
Sedikit berbelok menatapku

Ayah…
Rasa ini hancur
Tak tergoyah karenamu

Ayah….
Kembalilah
Kembali menatapku dengan senyuman itu
Senyuman indah dari bibirmu

Selasa, 18 Februari 2014

Jasamu


            saat ku pandang langit biru
            saat itu juga aku teringat jasamu
            jasa yang tak akan pernah hilang untuk dikenang
            yang tak akan pernah habis untuk dirasakan

            kau…
            dengan tak ada rasa bosan mengajariku
            mengajari akan pentingnya ilmu
            pentingnya akan pendidikan yang tinggi
            aku tak mampu menahan derai air mata ini
            saat detik-detik terakhirku ini untuk meninggalkanmu
            meninggalkan hari-hari bersama materi barumu
            bersama ocehan yang kerap kali kau lontarkan

            aku tak akan mampu melupakanmu
            selain orangtuaku yang mengajariku
            kau juga turut mengajariku di tempat ini
            tempat yang paling bersejarah bagiku
            tempat masa putih abu-abuku ini

            tak kan mampu aku untuk meninggalkan guru-guru tercintaku
            berpisah bersama teman-temanku


Kangen Kamu



Suatu hari nanti saat waktu mempertemukan kita berdua
Aku akan mencium ujung kaki hingga ujung rambutmu itu
Dan kukatakan pada setiap jengkal kulitmu
Bahwa aku teramat merindukan dirimu
Kan kubisikkan ditelingamu berulang-ulang hingga engkau merasa bosan
Kan kunyanyikan syairku hingga engkau tertidur lelap
Dan kutuliskan dihatimu betapa aku menyayangimu
Setelah letih menidurkanku dan membawaku kealam mimpi
Hari ini,kurasakan pagi bernyanyi untukku
Masih teringat jelas ditelingaku lembut suaramu semerdu lagu bidadari
Saat kau menyapa mimpiku malam tadi
Dan masih Nampak jelas dimataku
Senyum manismu yang membuatku merasakan indahnya kebahagiaan
Masih teringat jelas jemariku membelai rambutmu yang terurai
Kau tarik tanganku dank au genggam erat
Semua tak akan hilang dalam ingatanku
Namun canda tawa bersamamu kini hanya penantian
Tutur sapa denganmu kini hanya impian semata
Jauh tatapan untuk bertemu,jauh kita untuk menyapa
Walau jarak membentang memisahkan kita
Namun hati ini selalu menanti kehadiranmu

Aku kangen kamu………

Perpisahan ini



Waktu lalu…
Waktu yang tak kan menyatu kemasa kini
Waktu yang tak kan kembali kemasa lalu
Hingga sang mentari bersinar meneranginya

Waktu, ada siang ada malam
Kala bumi berotasi dan berevolusi
Namun waktu yang akan menyatukan kita
Dimasa kita bertemu nanti

Bertemu dalam satu keadaan yang berbeda
Bertemu dalam situasi yang sama

Namun,,,,,
Di perpisahan ini, kau benar-benar  aneh
Aneh dengan kepalsuan suara
Aneh dengan ketidakmungkinan yang terjadi

Tuhan …
Jikalau Kau Maha Pemurah
Pertemukannlah kami dalam satu cinta
Namun jangan pertemukan kami dalam kebencian

Tuhan…

Perpisahan ini, tak akan berujung  dengan kesedihan

Negeriku yang malang



Saat air mengalir begitu derasnya menyelimuti semua yang ada didalamnya
Saat air mengalir begitu derasnya mengisi celah-celah kosong yang ada di sekitarnya
Begitu cepat dan hebat, tanpa henti ia terus menutupi celah-celah kosong itu
Tiupan angin pun turut mengikuti  arus kemana air itu hendak dilimpahkan

Dia datang tiba-tiba, seolah-olah bencana besar datang hendak menelan alam ini
Bahkan awan pun tak memberi  tanda kepada pohon-pohon disekitarnya
Hanya terlihat gemuruh angin dan burung-burung  yang berterbangan tak tentu arah

Tak sampai hitungan menit, ia benar-benar datang
Datang menghampiri apa yang bisa di raihnya melalui gelombang tinggi itu
Gelombang mengerikan itu menghempas di atas permukaan laut dengan sangat dasyat
Ribuan nyawa hilang terbawa secara mendadak oleh sapuannya

Tertunduk ribuan air mata berlinang dan takut menyaksikan kejadian itu
Mereka benar-benar berduka dengan kejadian yang mereka lihat saat itu
Mencari-cari kemana anggota keluarga mereka, namun hasilnya nihil

Negeriku yang malang ini benar-benar berduka
Dunia pun ikut berduka menyaksikan kabarnya
Banyak menyangka, ini semua ulah manusia
Namun, apa daya tumpahan air yang begitu besar itu tak mampu di kembalikan ketempatnya

Maafkan Aku Ibu



Ibu, begitu  banyak pengorbananmu terhadapku
Begitu banyak, jerih payahmu untuk melihatku tersenyum bahagia
Begitu besar kasih sayang yang kau berikan terhadapku
Hingga sampai saat ini, kau masih tetap berada disampingku

Aku yang selalu kau anggap sebagai putri kecilmu ini
Putri yang senantiasa ada dalam setiap do’a-do’amu
Ada dalam setiap mimpi-mimpi indahmu
Bahkan ada disetiap kesibukanmu, aku akan selalu ada bagimu

Betapa berat dan besar beban yang kau pikul hanya untuk putri kecilmu yang tak tahu diri ini
Putri kecil yang hanya tahu meminta, dan meminta

Ibu…
Aku yang teringat atas kesalahan yang kulakukan di masa lalu
Atas omongan yang membuat hatimu terluka
Kau merasakan sakit itu, tapi bukan ragamu melainkan hatimu

 Putri kecil yang selalu kau banggakan dulu
Kini telah dewasa, dia tahu akan dosa-dosa dan akibatnya
Tahu bagaimana rasanya menjadi seorang wanita
Maafkan aku ibu, aku berjanji akan selalu membuatmu tersenyum
Hingga nyawaku jadi taruhannya nanti
Senyummu adalah kebahagiannku
Senyummu adalah penopang raga dan pengganti hidupku
Senyummu juga sebagai penyemangatku

Ibu…
Jika kau sedih, aku akan lebih sedih darimu
Jika kau menangis, aku juga akan turut menemanimu meneteskan air mata itu
Meneteskan air mata yang tak semestinya diteteskan

Akan kuraih kau dalam dekapanku
Hingga kau terlelap tidur dalam pangkuanku
sambil kubisikkan dengan pelan sebuah kata maaf yang dulu sulit terucap dari bibir ini
sebuah kata yang tak akan terlupakan
maafkan aku Ibu

Kenanglah Sahabat


genggaman tangan  itu, terasa tak ingin terlepas
genggaman tangan  itu, terasa sangat kuat menggenggam tangan-tangan mungil  ini
bahkan jari-jemari ini tak mampu tuk memberontak meminta lepas dari genggamannya
genggaman tangan itu pun telah mengajariku bagaimana aku bisa menghargai sahabat-sahabatku

sahabat…
dikala kita terpisah oleh jarak dan waktu nantinya
yakinlah kita akan tetap bersatu kembali dalam waktu yang berbeda
walau hati ini tak bisa memungkiri, untuk tak bisa jauh dari kalian semua

perjalanan panjang dimasa lalu hingga kini t’lah kita lalui bersama
berbagai rintangan, haluan terasa ringan kuhadapi bersama kalian
bahkan aku juga tak mampu tuk menahan tetesan air mata ini
saat aku mengingat masa-masa indah itu bersama kalian

sahabat…
kenanglah aku, dia, hingga mereka yang tetap ingin bersama-sama menghargaimu
waktu ini begitu cepat berlalu untuk menikmati masa kebersamaan kita
begitu cepat berlalu untuk kita bisa mengulang masa-masa yang telah lewat

sahabat….
Air mata ini, tak akan bisa menetes dengan sendirinya
Tak akan bisa berhenti mengalir hanya  dengan hitungan waktu
Biarpun jam berputar mengikuti porosnya, aku akan selalu mengingatmu
Kenanglah aku, walau nanti waktu yang memisahkan kita

Kehadiranmu


Dulu Kau Ditunggu…
Dulu Kau Dinanti…
Tepat Dihari Itu Dan Di Pagi Itu Kau Hadir Kedunia Ini
Dengan Jeritan Tangis Yang Berdenging Di Telinga
Dengan Berat Yang Kebanyakan Diatas Rata-Rata Angka Kelahiran Umumnya

Bulan Demi Bulan Kau Terdeteksi Dengan Segala Perkembanganmu
Dan Kau Kini Hadir Dalam Rupa Yang Cantik Dan Manis
Menjadi Seorang Bocah Mungil Dengan Kelincahanmu
Bocah Mungil Dengan Kepintaran Dan Kepandaianmu

Kini Kau Disanjung, Disayang, Dimanja
Ayah, Ibumu Begitu Menyayangimu
Tak Lepas Dari Mereka Sebagai Ayah Dan Ibu Dari Kedua Orangtuamu
Yang Sangat Menyanyangimu Pula

Fasilitasmu Lengkap..
Apa Yang Tak Kau Minta, Mereka Berikan
Apa Yang Tak Kau Inginkan, Mereka Tetap Berikan
Walau Sebenarnya Kau Mengatakan Tidak

Mengatakan Tidak Untuk Menolak Atau Menerima
Itu Masih Dalam Rahasia Besar Yang Ia Simpan
Rahasia Yang Dapat Ia Ceritakan Ketika Ia Sudah Mampu Memanggil Ayah Dan Ibunya

Diusiamu Yang Tergolong Masih Kecil Ini
Kau Tumbuh Dan Berkembang Mengikuti Jalur Usiamu
Dengan Memasang Wajah Yang Selalu Tersenyum Dikeadaan Yang Dibilang Tak Bahagia
Saat Ini Kau Sebagai Putri Kecil Yang Dititipkan Ilahi Kepada Ayah Dan Ibumu
Ter-Ikut Do’a Yang Selalu Menyertaimu Dan Menjagamu Agar Kau Selalu Tersenyum
Membawa Kebahagian Dikeluarga Kecil Dan Besar Sekarang, Esok Hingga Selamanya

Kebahagiaan Ini



Hari  Ini…
Dia Benar-Benar Adil
Dia Benar-Benar Masih Tetap Menyayangiku Sebagai Umatnya
Dia Masih Benar-Benar Tak Pilih Kasih

Ibarat Seperti Seekor Burung Yang Terus Terbang
Terbang Tak Tentu Arah Mencari Tempat Untuk Berteduh Sejenak
Melepas Lelah Dan Dahaga Yang Berkepanjangan
Tak Ada Setetes Air Yang Dapat Di Alirkan Ke Kerongkongan Ini

Hari Demi Hari Ia Menunggu Sampai Datangnya Air Itu
Kini Tiba Saatnya, Air Itu Datang Dengan Begitu Derasnya
Tak Ada Raut Kesedihan Yang Terlihat
Hanya Ada Tangis Haru Dengan Semua Apa Yang Ia Rasakan Saat Itu

Sembilan Belas Tahun Lamanya Ia Hidup
Berkembang Dari Sejak Bayi Hingga Sekarang
Berkembang Dari Yang Dulu Tak Mengerti Apa-Apa
Dan Sekarang Berbagai Ilmu Ia Dapat
Bukan Hanya Dari Binaan Ayah Dan Ibunya
Melainkan Keingintahuannya Tentang Hidup Sesungguhnya


Sembilan Belas Tahun Ini..
Hidup Menjadi Begitu Berarti
Waktu Menjadi Singkat Untuk Dipermainkan
Hanya Sebuah Do’a Yang Dapat Dilantunkan
Do’a Yang Dapat Diberikan Untuk Sebuah Kado Terindah Untuknya
Kado Yang Tak Pernah Ada Duanya

Apa Yang Harus Kulakukan Tuhan?


Ingin Nangis Tuhan, Ingin Nangis
Sakit Banget, Seharusnya Aku Yang Marah
Tapi Kenapa Dia Tuhan, Kenapa??

Apa Aku Salah Tuhan??
Apa Aku Salah Memberitahunya
Apa Aku Salah Menasihatinya
Apa Aku Salah Tuhan??

Tolong Tuhan…..
Tolong…. Tolong Beritahu Aku Tuhan
Beri Aku Petunjuk Tuhan
Aku Ingin Menangis, Aku Tak Kuat Tuhan

Aku Menginginkan Semua Ini Baik-Baik Saja Tuhan
Aku Sabar, Okay Aku Lakukan
Aku Diam, Aku Juga Lakukan
Tuhan…. Tolong Aku….

Aku Sendiri, Tanpa Alas An Dan Rasa Berani Aku Melawan
Aku Capek…. Capek Harus Menerima Penghianatan Ini
Aku Capek….. Harus Menerima Rasa Sakit Ini
Aku Sakit, Sakit Banget Tuhan….

Tuhan, Tolong Bantu Aku Tuhan, Tuhan Tolong Aku….

Antara Aku Dan Tanda Tanya

Aku Tau Ini Tidak Mudah
Tak Mudah Untuk Menyatukan Perbedaan Ini
Tak Mudah Untuk Menyatukan Keegoisan Ini

Ini Hanya Tanda Tanya
Tanda Tanya Yang Harus Diungkapkan
Tanda Tanya Yang Memang Dipertanyakan

Bukan Hanya Tanda Tanya
Tapi Makna Dari Tanda Tanya Itu Sendiri
Ia Mampu Berdiri Sendiri
Mengapa Aku Tidak??
Namun, Aku Tak Mampu Membuang Rasa Sakitku Ini
Tak Mampu Mencari Teka-Teki Tanya Diriku

Aku Bukan Tanda Tanya
Dan Tanda Tanya Pun Bukan Aku

Kami Berbeda

AKU



Yang Diam Dalam Hening Malam
Yang Diam Penuh Dengan Kekacauan
Yang Diam Penuh Ketidakmampuan

Dalam Ruang Kecil Dan Kosong Ini
Aku Yang Tak Mampu Berbuat Sedikitpun
Tak Mampu Mengatakan Apa Yang Kuinginkan
Tak Mampu Memperlihatkan Apa Yang Tak Bisa Terlihat

Banyak Makna Tersirat Dalam Kebisuan
Banyak Kata Yang Tak Mampu Terucap Dalam Kediaman
Banyak Langkah Yang Mampu Member Insyarat
Namun Mereka Tak Mengerti, Tak Tahu Apa Yang Dikatakan

Derai Demi Deraian Air Mata Yang Terus Bercucuran
Bercucuran Yang Masih Tak Mampu Memberi  Sedikit Insyarat
Diam Ini Memberikan Rasa Penat Dalam Jiwaku
Diam Ini Memberikan Rasa Ketidakberdayaanku Menjalani Hidup

Didetik Terakhir Bersamamu
Hanya Dapat Memberikan Senyum Akhir Terindah
Memberikan Sebuah Kasih Sayang Yang Besar
Memberikan Sebuah Surat Terakhirku

Dikala Nanti Kita Tak Dapat Bersama Nanti
Berpisah Karena Kepergianku
Kelak Kamu Dapat Membaca Coretan Kecil Ini
Coretan Yang Tak Mampu Terhapus Oleh Air Mata

Namun Dapat Terkenang Oleh Kenangan Yang Ada